Wednesday, October 8, 2014

Autis dan Pengalamannya

Autisme



Pada suatu pagi tanggal 15 Agustus 2008,kami datang ke sebuah Rumah sakit pemerintah untuk memeriksakan anak kami yang pertama,tujuan kami adalah ke dokter spesialis THT.Setelah beberapa saat kami berkonsultasi ke dokter dan dokter mengobservasi anak kami,kami sangat kaget dari hasil pemeriksaan dokter spesialis THT,bahwasannya fungsi indra anak kami sangat normal tidak kekurangan sama sekali,terutama telinga anak kami.Maksud sebenarnya kami memeriksakan anak kami ke THT,karena kami curiga ada sesuatu yang terjadi dengan telinga anak kami,kecurigaan kami berawal ketika kami memanggil anak kami dia tidak pernah menyaut,bagi anak yang sudah berumur 1,5 tahun lazimnya sudah bisa diajak berkomunikasi dan apabila di panggil biasanya akan menoleh.Hal ini tidak terjadi pada anak kami,itulah yang mendorong kami untuk memeriksakan anak kami ke spesialis THT,mungkin ada indra anak kami yang tidak normal.

Setelah memberikan hasil pemeriksaan anak kami,dokter spesialis THT menyarankan kami untuk ke Psikolog,hal ini dilakukan untuk mengetahui persis apa yang terjadi pada anak kami,karena dari segi fisik anak kami sangat normal.Sesuai saran dokter spesialis THT,kamipun mendatangi psikolog yang direkomendasikan oleh dokter spesilis THT tadi.Setelah beberapa kali diobservasi,tiba saatnya psikolog menyimpulkan apa sebenarnya yang terjadi pada anak kami,bagaikan disambar petir di siang bolong,kami sangat kaget begitu mendengar kesimpulan dari psikolog,bahwa anak kami mengidap Autisme.Menurut psikolog ada beberapa gejala dan ciri-ciri autisme pada anak kami (akan kami jelaskan ciri-ciri autisme di kesempatan berikutnya).

Mendengar kesimpulan psikolog kami masih belum puas dan belum percaya sepenuhnya kalau anak kami mengidap autis,untuk itu kami mendatangi psikolog yang lain sebagai second opinion,dan kami sengaja memang tidak memberi tahu ke psikolog yang kedua,bahwa kami telah dari psikolog yang pertama dan hasilnya anak kami autis.Setelah beberapa kali diobservasi,psikolog yang kedua menyatakan bahwa anak kami memang autis,atas jawaban psikolog kedua ini kami mulai menerima kenyataan bahwa anak kami autis.

Pengalaman kami sebagai orang tua penyandang autis akan kami bagi di blog ini,kami bukan ahli tapi kami adalah orang yang selama beberapa tahun yang langsung berhadapan dengan penyandang autis,mulai dari bagaimana memberi  makan,minum,memandikan dan terapi.karena anak autis ada beberapa pantangan yang tidak boleh dimakan dan minum oleh anak autis dan bagaimana memperlakukan mereka sesuai dengan yang seharusnya mereka terima.Pengalaman ini kami bagi agar memberikan sedikit pengetahuan bagi orang tua penyandang autis bagaimana caranya memperlakukan anak autis dengan baik dan benar.dan juga pengalaman ini, kami tulis sebagai penyemangat bagi orang tua anak autis,bahwasannya mereka tidak sendiri,dan tidak perlu menyesali apalagi sampai menyalahkan tuhan karena telah memberi anak autis.Karena sebenarnya kita adalah orang tua yang istimewa,oleh karena itu kita dititipi oleh tuhan anak yang istimewa.

Syukur Alhamdulillah sekarang anak kami sudah bisa mandiri,meskipun tidak sepenuhnya autis itu hilang dari anak kami,tapi sekarang sudah bisa sekolah dengan anak-anak yang normal meskipun kami harus berpacu dengan kemajuan anak-anak normal,karena anak kami perkembangannya sangat lambat.

Cukup sekian dulu pertemuan kali ini,akan kami sambung uraian pengalaman-pengalaman kami di lain kesempatan,masih banyak yang akan kami sampaikan di blog ini,mulai dari susahnya dan hal-hal lucu yang kami alami selama merawat anak kami yang autis.

No comments:

Post a Comment